Tiga Sketsa di Satu Malam - Sketsa 3

Sketsa 3

Ini sketsa kehidupan yang ironi. Sayangnya momen ini tadi tak bisa kuabadikan dengan kamera atau media lainnya sehingga tak bisa kalian rasakan ironi yang kurasakan secara menyeluruh. Ini ironi tentang kehidupan jalanan. Sepulang dari memastikan bahwa kekasihku tidak bersedia pulang denganku setelah terlebih dulu mengecek ke dalam kampus , aku pulang seperti biasa: jalan kaki melewati simpang Dago. Sesaat di persimpangan aku perhatikan sekumpulan, sekitar enam atau tujuh, muda-mudi berdiri dan membuat keributan di trotoar tengah pembatas jalan. Aku sangka hanya anak muda yang mencoba menyeberang, tapi ternyata setelah aku perhatikan gitar yang salah seorang pemuda bawa dan tingkah mereka, aku yakin mereka sedang mengamen. Biasanya anak-anak muda seperti ini adalah mahasiswa yang mengamen di perempatan untuk mengumpulkan pendanaan kegiatan. Ironi yang kulihat adalah; sekita lima meter dari remaja-remaja berpakaian serba-bagus dan serba-pantas itu, nampak seorang bapak tunanetra yang mengemis dengan dibantu seorang putrinya yang kuduga berumur belum sepuluh tahun dan keduanya berpakaian lusuh. Bukan cara berpakaian mereka yang perlu kita renungi, tapi lebih kepada perilaku pengendara terhadap kedua kelompok orang ini. Untuk kalian yang pernah mengusahakan pendanaan kegiatan dengan cara mengamen, harusnya sadar betapa jomplang ironi yang terjadi. Aku duga remaja-remaja tadi, dengan bermodalkan status mahasiswa, mendapatkan lebih banyak uang dalam satu malam dari pengendara mobil dan motor ketimbang uang yang didaptkan pengemis itu dalam sehari, seminggu atau bahkan sebulan. Ironi bukan? Para pengendara itu memberikan sumbangan, santuan, bantuan, atau apapun lah namany dengan memandang status sosial seseorang. Pengemis dipandang sinis dan sebelah mata, bahkan lebih banyak ditepis dengan alasan menjadi beban masyarakat saja dan jadi kebiasaan mengemis terus kalau diberi uang, sedangkan mahasiswa tadi dipandang sebagai orang yang layak 'disantuni' lebih banyak karena mahasiswa itu mau bermalu-malu mengamen di perempatan jalan demi jalannya kegiatan mereka. Ahh,, ironi kawan. Hanya ini yang dapat kuceritakan. Aku tak kuat berkomentar lebih banyak.

Tiga Sketsa di Satu Malam - Sketsa 1

Sketsa 2

Setelah pulang formas, aku masih harus menunggui kekasihku, memastikan apa dia mau pulang denganku atau tidak. Aku menunggu di gerbang belakang kampus. Tadinya ingin duduk di palang tepat di depan bagian pagar yang terbuka,, ternyata ada dua pasang muda-mudi yang sedang indehoy tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya dan itu membuatku risih. Tapi bukan itu sketsa yang ingin kuceritakan. Akhirnya aku menemukan tempat untuk menunggu yang pas di luar gerbang belakang itu, yaitu di dekat seorang bapak tukang parkir. Sambil menghampiri bapak itu, aku sapa basa-basi "jaga sampai malam, pak?". Ah. Ternyata bapak itu merespon dengan baik. Sepertinya memang beliau butuh teman bicara di sela-sela kesepian beliau menunggui motor-motor dan mobil-mobil yang terparkir di sekitar gerbang belakang itu. Tidak banyak sebenarnya hal-hal yang kami bicarakan. Kami hanya berputar-putar tentang bagaimana bapak itu menjaga mobil dan motor di sini, lalu cerita kasus-kasus pencurian yang pernah terjadi, tentang mahasiswa-mahasiswa yang bapak itu kenal karena menitipkan mobil dan motor mereka, dan banyak hal lagi.

Aku memang paling suka memulai pembicaraan spontan dengan orang-orang seperti mereka, orang-orang yang terpaksa memilih jalan berat untuk tetap bisa menghidupi keluarga mereka, karena banyak kebijaksanaan yang bisa kita dapat dari mereka. Mungkin lebih karena mereka sudah lebih lama hidup di dunia ini. Bisa pula karena jalan hidup yang berat mengajarkan mereka banyak hal dan lebih banyak kebijaksanaan ketimbang kita yang dari kecil sampai sebesar ini hanya hidup mapan. Atau bisa jadi karena Allah menciptakan orang-orang seperti mereka dengan setangkup kebijakan yang takkan pernah bisa habis termakan waktu. Bicara lama dan panjang lebar seperti menemukan sosok orangtua yang mungkin lama tidak kita jumpai untuk orang rantau seperti diriku. Bercerita dengan mereka bukan seledar untuk membunuh waktu, namun lebih banyak untuk menyerap saripati kebijaksanaan dan mendewasakan kita dalam kehidupan. Seringkali kita lebih banyak berinterakjsi dengan teman sebaya kita, menjadikan teman-teman kita tempat berbagi, tapi rasanya kebijaksaan dan nasihat yang terlontar masih kalah bijaksana dengan orang-orang yan kugambarkan tadi. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Itu membuat kita jadi tersadar bahwa kita hanya orang yang masih kecil sekali di dunia ini, baru bisa merasakan kesenangan saja, itupun secuil. Seringkali kita marah karena ada orang yang mengganggu kita dengan semena-mena, marah karena hal-hal kecil yang menurut subjektif kita itu penting, sedih karena hal-hal ederhana yang tidak terlalu prinsipil. Rasanya semua itu masih kalah, karena bapak tukang parkir itu dan orang-orang semacama beliau lebih mengerti makna kebahagiaan dan kesedihan secara mendalam.

Coba kawan, lebih banyak selami kebijaksanaan dunia ini lewat orang-orang seperti mereka, karena aku yakin Allah mengirimkan mereka bukan untuk menjadi beban dunia, tapi untuk menjadi warna yang memperindah sketsa kehidupan kita.

Tiga Sketsa di Satu Malam - Sketsa 1

Malam ini begitu banyak sketsa kehidupan yang terbentuk seiring diriku menyelami dingin dan gelapnya malam dengan kegiatan-kegiatanku.

Sketsa 1

Umm,, sangat menarik bagiku untuk bisa ada di forum-forum kemahasiswaan semacam forum massa tadi malam. Banyak pikiran, pendapat, dan alasan yang mengiringi dinamika ketidak-idealan kondisi kemahasiswaan. Mantap memang, banyak oranga yang berdiskusi, berpikir dan berbicara. Namun malam ini kucoba hal berbeda, aku tutup mataku dan coba dengar lewat hatiku. Ada banyak pertanyaan besar:
apa dulu Soekarno membahas hal yang sama? Apa mereka kakak-kakak kita terdahulu berpikir dengan pola yang sama? Apa mereka berdiskusi dengan dinamika yang sama? Aku rasa kita tidak akan pernah tahu. Aku berharap ketika kubuka mataku, aku sudah ada di tengah forum yang sudah ada Soekarno di situ, mengamati Soekarno bicara, menyelami cara beliau berpikir, memahami pola beliau berdinamika. Umm,, I'm wondering whether we are today's Soekarno?

Hal Terbaik

by Ian Achmad Januar


 

What's the best thing that's ever happened to you?

Pertanyaan yang sederhana bukan? Tapi coba saja jawab pertanyaan ini, dan perhatikan dirimu. Berapa lama yang kau butuh kan untuk menjawab pertanyaan ini dengan mantap. Satu detik? Dua menit? Tiga Jam? Empat Hari? Lima Tahun? Atau bahkan kau takkan pernah temukan jawabannya seumur hidupmu? Belum lagi jika orang yang berbeda yang menanyakannya kepadamu. Apatah jawabanmu akan sama saja ketika yang bertanya adalah orangtuamu, kekasihmu, sahabatmu, atau anakmu sendiri?

Lantas, untuk aku sendiri, banyak sekali hal terbaik dalam hidupku jika orang berbeda menanyaiku pertanyaan yang sama. Tapi di atas segalanya, hal terbaik yang pernah terjadi di dalam kehidupanku adalah kali pertama aku menangis karena merasa jauh terpisah dari Mama-Papa. Sendiri dalam ruangan yang sengaja kumatikan semua lampunya, aku ketik di ponselku begitu banyak kata dan perasaan yang tergurat di hatiku saat itu. Perasaan betapa aku terlalu jauh dari Mama-Papa, terlalu rapuh tanpa Mama-Papa, butuh pelukan Mama-papa di hari-hariku, butuh nasihat Mama-Papa, bahkan aku butuh senyuman Mama-Papa di setiap satu pagi lagi aku terbangun.

Tapi rasany tiba-tiba banyak hal terlupakan tentang Mama-Papaku karena aku kini sudah punya kekasih. Sudah punya wanita yang harus aku mengerti. Aku bukan lagi seorang laki-laki yang hidup semauku dalam duniaku sendiri. Aku haru mau membuka tembok pembatas duniaku dan mulai memahami seluruh keinginan dan kehendak kekasihku. Naif memang, karena dilemahkan cinta. Namun aku memang harus banyak belajar untuk mencintai, dan inilah kesempatanku. Aku berjuan untuk jadikan ini kesempatan pertama sekaligus terakhir buatku. Bagiku, mencintai dan kehilangan itu terjadi hanya sekali seumur hidup. Aku mencintai hari ini, sekali untuk selamanya, dan baru akan mau kehilangan nanti, ketika tangan-tangan Tuhan sudah campur tangan. Masih sulit memang untukku mendapatkan seluruh hatinya, tapi itu tantangan buatku. Suatu kesempatan untuk memahami setiap hal yang ada di hati, pikiran, dan tingkahnya. Aku cuma bisa berjuang dan tunjukkan cinta dengan segala cara yang aku mampu. Pada akhirnya, aku serahkan pada kekasihku, akankah aku teman hidup selamanya, atau hanya lelaki yang sekedar lewat di kehidupannya.

Seperti potongan dialog dalam film The Game Plan berikut:

"Well, the only thing you can do is make sure that she knows you love her.

and that nothing's ever going to change that. And then when she's ready, she'll find you again"

Indescribable Feelings

Terbiasa terinspirasi oleh tingkah beberapa wanita yang sempat menggoda hati, ternyata tidak berlaku sama sekali untuk satu kekasihku kini. Tidak ada kata yang bisa keluar dari rongga-rongga kepalaku dan menghiasi catatan-catatan perjalanan kehidupanku dengan kata. Tidak ada ide yang mengalir ketika sepenuhnya kucurahkan hati dan pikiran untuk menorehkan segala sesuatu tentang kekasihku. Mungkin benar seperti yang tertuang dalam lagu a whole new world:

Unbelievable sights // Indescribable feeling …

Cinta Tak Menunggu

Cinta tak menunggu sampai tangan-tangan takdir membawa dirimu, seluruh hati-ragamu ke hadapannya
Cinta tak menunggu sampai angin-angin semilir menyampaikan rindumu yang senantiasa mengusik telinga dan hatinya
Cinta tak menunggu sampai malam datang bersama kelamnya dan menghadirkanmu dalam mimpi-mimpi lelapnya yang selalu indah
Cinta tak menunggu sampai pagi untuk kemudian kicau burung-burung pagi yang mengatakan padanya betapa kau cinta dirinya
Cinta tak menunggu sampai daun terakhir musim gugur jatuh dengan rikuh ke tanah
Cinta tak menunggu sampai salju pertama musim dingin menghiasi sisi luar jendelamu
Cinta tak menunggu sampai bunga pertama musim semi mekar mengharumkan pagi
Cinta tak menunggu sampai terik musim panas benar-benar berakhir
Cinta tak menunggu pagi menyenja
Cinta tak menunggu malam memfajar
Cinta tak menunggu musim semi menguning
Cinta tak menunggu musim gugur memutih
Cinta tak menunggu hujan mengering
Cinta tak menunggu kemarau menyegar
Cinta tak menunggu musim panas meneduh
Cinta tak menunggu musim dingin menghangat
CINTA TAK MENUNGGU,…

Mengejari Dia Tentang Kesempatan

Aku    :
aku mau kita terus,, tapi kondisiny saling sayang bukan dg menerka-nerka. kalu ada diantara kita butuh yg lain,, lgsg bilang, ganunggu peka-pekaan

Aku    :
tau kan,, kamu sifatnya moody,, aku cenderung cuek. pasti ada saat dimana aku bercanda pdhl kamu bete,, ato aku cemberut di saat kamu pengen dihibur,, saling terbuka ya,, saling bilang lgsg apa yg plg kita butuhkan

Dia    :
kok gini bgt sih

Dia    :
ngejalanin hubungan kita kok rasanya berat bgt

Dia    :
banyak bgt hambatannya

Dia    :
kenapa sih TUHAN ga pernah ngasih tau ke umatnya siapa jodoh dalam hidup ini

Aku    :
aku punya keyakinan,, hari ini memang beraat bgt buat aku, buat kamu, buat kita,, tapi aku sadar inilah cara Allah memberikan kesempatan kepada kita

Aku    :
bayangkan kalu hari ini berat,, ada kemudahan yang menunggu di ujung sana,, kamu galupa surat alam nasyroh kn,,

Dia    :
ya kalo kayak gini terus aku ga kuat

Aku    :
kalu Allah ngasihtau jodohnya ke umatnya,, maka manusia hanya mau menunggu,, tnp sadar bahwa sesungguhny jodoh yang dihadapi adalah perjuangan,, bukan cuma sekedar memiliki

Aku    :
sayang,, aku mau kamu ingat-ingat semua doamu,, apa aja yg udah kamu minta ke Allah lwt solat2mu,,

Aku    :
kalu kamu minta kebahagiaan,, apakah Allah akan menjatuhkan kebahagiaan dri langit,, atau memberikan kamu kesempatan untuk memperoleh kebahagiaan??

Aku    :
aku berdoa agar aku bisa pahami kamu,, tapi Allah gak serta merta ngasih menanamkan ke kepalaku,, tapi Allah ngasih aku kesempatan, banyaaak sekali kesempatan,, untuk lebih mengerti dirimu, diriku, kita

Dia    :
buat apa sih aku berjuang untuk sperti ini?

Dia    :
buat apa?

Dia    :
buat siapa?

Dia    :
buat kapan?

Aku    :
buat belajar, tumbuh dan dewasa,, buat kamu, buat ayah-ibumu,, buat masa depanmu

Aku    :
kamu tentu udah mikir sejauh itu kan,..

Dia    :
knapa harrus sama kamu?

Aku    :
manusia, termasuk aku, gapunya semua jawaban,, mungkin dengan sujud dan doa, aku bisa jawab itu, kamu pun bisa dapat jawabannya

Aku    :
'kenapa harus sama aku' adalah pertanyaan yang aku gapunya jawabannya

Dia    :
support aku ya

Dia    :
semoga aku tetap bisa ngejalanin dan berjuang buat kita dan masa depan kita

Dia    :
plis jangan siksa aku lagi dgn sikap ga peka kamu

Aku    :
aku support kamu,, dg diriku,, dg doa-doaku,,

Aku    :
iyaa,, ku akan belajar lebih peka,, ajari aku juga ya,,

Aku    :
i love you so mmmuach